Oke MMS Headline

Okemms | Oke MMS

Pemelihara Sapi di Indonesia Menangis

Written By Nyach on Rabu, 21 September 2011 | 11.17

Dengan kasih dan sayang diusaplah kepalanya dengan air sampai punggung dan badan, dua ekor sapi melenguh uuuuuwahhh. Pak Narimah membelai-belai sapinya yang berjumlah dua ekor dengan air dan handuk setiap pagi hari setelah sholat shubuh. Di tengah kebun kopi sebelah barat rumah yang sederhana selalu terjadi kemesraan antara sapi dengan tuannya.
" Sapinya gemuk gemuk ya Pak" saya sapa dari kejauhan, Pak Narimah menghentikan aktifitasnya.
" Alhamdulillah, tapi gak jadi saya jual " jawabnya
" Kenapa ?, kemarin 1 bulan yang lalu katanya mau di jual" lanjutku
" Iya, tetapi harganya sangat murah. Masak saya membeli dengan harga 7 juta rupiah, la kok hanya di tawar 5 juta. Rugilah saya". Penjelasan Pak Narimah membuat saya terenyuh.
Sapi itu sudah dipelihara lima bulan lebih tetapi hasil jerih payahnya hanya mendapat kerugian. 
Kerugian tidak hanya dari modal untuk membeli, tetapi tenaga yang digunakan untuk memelihara sapi. Hampir tiap pagi memandikan, minimal menyeponi (bhs Jawa = mengelap dengan kain) sapi-sapi kesayangannya agar sehat dan bergairah.
Orang bekerja tentunya mengharapkan penghasilan buah dari keluar keringat. Pepatah toraja mengatakan "tambah gula tambah sagu" yang artinya semakin banyak bekerja semakin banyak rizqy yang didapat. Memelihara sapi ada tiga hasil yang diharapan yaitu :
  1. Untung , yaitu keuntungan yang didapat dari selisih harga beli dan harga jual. Istilahnya pemeliharaan penggemukan sapi.
  2. Anak sapi, yaitu memelihara sapi mengharapkan sapinya bertambah. Kalau sapi yang dipelihara miliknya orng lain maka anak sapi yang lahir dibagi dua. Bisa saja bergantian antara pemilik dan pemelihara sapi dalam memiliki anak sapi.
          3. Susu sapi, pemeliharan yang mengharapkan susu untuk dijual adalah sapi perah.

Kenapa harga sapi murah, sehingga si pemelihara sapi menangis, aneh padahal daging sapi tidak mengalami penurunan harga.  
Marilah kita ingat ketika ada penayangan penyembelihan sapi di Australia , dan Australia menghentikan ekspor sapi ke Indonesia.
Ketika itu selama dua minggu maka harga sapi di pasaran Indonesia sesuai dengan harapan pemelihara sapi. Rakyat sangat senang dengan kenaikan harga tersebut.
Kenapa pemerintah terus mengijinkan impor sapi padahal sapi-sapi di Indonesia banyak. Dengan kebijakan impor sapi yang menguntungkan sebagian kecil orang Indonesia berdampak melelehnya air mata istri Pak Narimah yang tiap hari merumput di mana saja sekedar mengenyangkan sapi-sapinya.

7 komentar:

Nyach mengatakan...

semoga cepat ada solusi

Catatan si Boy mengatakan...

heheh.. foto cewek nenen itu lucu.. heheh

Yudi Yunior mengatakan...

tp klu sering2 netek sm sapi lama2 jd anak sapi,gitu kata gambarnya, wkwkwk.....

Nyach mengatakan...

Mas Boy, karena itulah saya taruh

Nyach mengatakan...

Mas Yudi, sama dengan tiap hari makan roti maka nanti jadi bule he he he

YOGYAKARTA mengatakan...

wow this really good blog content

Bang Pendi mengatakan...

memang diperlukan turun tangan pemerintah untuk mensejahterakan nasib peternak, mungkin dengan cara mengurangi impor daging dan itu terlihat hasilnya saat Australia menghentikan ekspornya...mudah2an rencana swasembada daging yg dicanangkan pemerintah bisa mengangkat kesejahteraan para peternak