Era tahun 80 an, di dusun Sukorejo desa Sukowilangan Kecamatan Kalipare terdapat group kesenian. Group kesenian ini diberinama reyog. Kesenian ini sempat menjadi primadona kesenian di dusun Sukorejo yang disebut pula dengan Rekesan.
Sering terdengar suara kendang bertalu-talu "tung tung tung tung" ketika jam sembilan pagi , disaat group ini sedang berlatih di rumah mendiang kepala dusun yaitu Bapak Giron (almarhum). Cukup menjadi sarana hiburan warga setempat yang biasanya bekerja di kebun atau di kali menangkap ikan.
Kesenian reyog yang di maksud dimainkan oleh 6 sampai dengan 8 orang. Reyog ini unik, karena pemainnya itu sebagai penari, sekaligus pemusik. Masing-masing pemain berlenggak lenggok sambil membawa gendang. Pakaian yang dikenakan sangat mencolok, anehnya masing-masing pemain selalu memakai kacamata hitam, berkaos kaki panjang hampir mencapai lutut. Memakai celana ukuran tiga perempat dilengkapi kain kebaya yang dilipat setengah.
Penampilan group reyok dari dusun Sukorejo ini, terakhir terlihat saat perayaan HUT RI tahun 2012 di desa Sukowilangun. Sedangkan untuk latihan sudah tidak lagi terdengar seperti jaman dulu.
Menurut para orang tua di dusun setempat, asal usul kesenian ini adalah dari Ponorogo, karena Bapak Giron yang saat itu menjabat sebagai kepala dusun memang berasal dari Ponorogo.
Tapi sayang, group reyog ini sekarang cuma sebagai kenangan. Selain kesenian Reyog Sukorejo, ada lagi kesenian di Kalipare yang tinggal kenangan yaitu Kesenian drama madura "Kuntulan". Banyak kesenian di kabupaten Malang yang bisa dihidupkan kembali, jika kabupaten ini memang serius mau menjadikan Malang sebagai daerah wisata .
Sumber foto : Kalipare Media
Sering terdengar suara kendang bertalu-talu "tung tung tung tung" ketika jam sembilan pagi , disaat group ini sedang berlatih di rumah mendiang kepala dusun yaitu Bapak Giron (almarhum). Cukup menjadi sarana hiburan warga setempat yang biasanya bekerja di kebun atau di kali menangkap ikan.
Kesenian reyog yang di maksud dimainkan oleh 6 sampai dengan 8 orang. Reyog ini unik, karena pemainnya itu sebagai penari, sekaligus pemusik. Masing-masing pemain berlenggak lenggok sambil membawa gendang. Pakaian yang dikenakan sangat mencolok, anehnya masing-masing pemain selalu memakai kacamata hitam, berkaos kaki panjang hampir mencapai lutut. Memakai celana ukuran tiga perempat dilengkapi kain kebaya yang dilipat setengah.
Penampilan group reyok dari dusun Sukorejo ini, terakhir terlihat saat perayaan HUT RI tahun 2012 di desa Sukowilangun. Sedangkan untuk latihan sudah tidak lagi terdengar seperti jaman dulu.
Menurut para orang tua di dusun setempat, asal usul kesenian ini adalah dari Ponorogo, karena Bapak Giron yang saat itu menjabat sebagai kepala dusun memang berasal dari Ponorogo.
Tapi sayang, group reyog ini sekarang cuma sebagai kenangan. Selain kesenian Reyog Sukorejo, ada lagi kesenian di Kalipare yang tinggal kenangan yaitu Kesenian drama madura "Kuntulan". Banyak kesenian di kabupaten Malang yang bisa dihidupkan kembali, jika kabupaten ini memang serius mau menjadikan Malang sebagai daerah wisata .
Sumber foto : Kalipare Media
19.04 | 26
komentar | Read More





