Suasana kawatir menyelimuti hati, melihat para saudara sekampung halaman yang mengalami penurunan hasil panen. Kawatir ?? ngak hanya kawatir tetapi juga kasihan terhadap mereka, yang hanya menggantungkan kebutuhan sehari-hari hanya dari hasil panen itu. Tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari tetapi juga untuk kebutuhan pengolahan tanah. "Bagaimana bisa meningkatkan produksi tani kalau terus terusan begini, tanah pertanian bagaikan kuda sakit yang gak mau jalan meskipun sudah dicambuk dengan pupuk kimia", benakku berbisik. Itu terjadi pada pertengahan tahun 2009, kalau gak salah ketika masa kampanye pemilu legislatif.
Dari hasil baca dan browsing tentang pertanian dan pemberdayaan masyarakat desa timbul sebuah ide, " saudara sekampung perlu sebuah perubahan pemikiran cara bertani". Memang saudara di kampung saya, dalam bertani masih menggunakan cara-cara nenek moyang, secara turun temurun, bahkan mereka tidak sadar kalau tanah yang mereka geluti setiap hari sudah jenuh dengan pupuk kimia. Alhamdulilllah sekarang sudah banyak saudara saya yang menerapkan pemupukan non kimia (pupuk organik), pola tanam SRI, JAJAR LEGOWO, dengan perasaan dan hati legowo pula. Meskipun belum seratus persen berhasil, saya sangat senang tak terkira, oleh karena itu pengalaman pertama saya dalam membentuk organisasi yang bernama "Mandiri Makmur Sejahtera/MMS" itu, saya ceritakan di sini. Sekalian ikut meramaikan GWnya mbak Siti Rasuna Wibawa bertema "Pengalaman Pertama". dalam Blogg Corat Coret Una.

Ide untuk membedah pemikiran saudara petani di kampung agar bisa berjajar dengan hati legowo adalah melalui ajang silaturrahmi dan diskusi. Dari omong sana sini akhirnya dapat sambutan dari 3 orang teman yang sekaligus sebagai pendiri organisasi bersama saya. Pertemuan pertama dilaksanakan dengan dihadiri oleh 8 orang saudara sekampung saja ditambah tiga orang teman dari luar daerah yang sebagai pemateri saat itu. Saya dibayangi oleh pikran yang berkecamuk saat itu, "berapa biaya transport pemateri setiap datang", akhirnya walaupun setengah terpaksa saya tanyakan , ternyata jawab pemateri sangat mengejutkan " Bapak-bapak tidak usah kawatir tentang transport karena kami membantu dengan ikhlas untuk menumbuhkan pemberdayaan masyarakat di sini". terus ditambahkan oleh pemateri yang lain " kalau kami datang hanya untuk membedah pemikiran masyarakat, agar masyarakat tidak mudah dikelabuhi baik dalam pertanian atau sharing tentang agama".
Betapa sulitnya membongkar pemikiran masyarakat tentang metode tanam dan pemupukan, karena mereka merasa mempunyai pengalaman bertani lebih lama bahkan turun temurun, seperti ketika dilontarkan metode tanam SRI. Dimana metode tanam SRI adalah menanam hanya 1 atau 2 bibit padi saja dengan mengkondisikan media tanam yang setengah kering, mereka menjawab " gak akan berhasil kalau tanamnya hanya satu atau dua bibit, kalau mati sudah gak ada lagi yang mau tumbuh, beda kalau menanamnya dengan segerombol bibit, kalau mati satu masih ada yang lain". Alhamdulillah setelah ada satu orang yang mau praktik dan diketahui sangat irit bibit dan berhasil cara ini sekarang sudah banyak yang memakai. Sehingga saudara petani hatinya legowo karena bisanya habis benih 1 gembreng (istilah kampung = 12 liter) setelah memakai metode SRI hanya menghabiskan maksimal 5 kg.
Tanggapan masyarakat yang paling pedas komentarnya adalah saat digulirkan metode tanam jajar legowo, " anak muda itu tahunya apa, kalau satu baris tidak ditanami kan rugi. Gimana apa tidak lebih banyak menanam 10 baris padi dari pada 7 baris padi ?". Terasa panas ditelinga dan pikiran, tapi karena menyadari bahwa membawa metode baru sangat berat, kami tidak mau berdebat, apalagi mereka adalah bapak-bapak kami. Beruntunglah sub organisasi MMS yang bernama Karya Maju mendapatkan sedikit bantuan dana untuk mempraktikan metode tanam jajar legowo, sehingga setelah mereka mau mempraktikan metode ini, dan hasilnya sangat menggembirakan. Sekarang sudah bertambah satu demi satu saudara petani di kampung ikut-ikutan menggunakan metode tanam jajar legowo.
Karena keseriusa teman-teman dalam menciptakan inovasi pertanian, kelompok tani kami dipercaya oleh petugas pemerintah sebagai kelompok yang ada kegiatannya, sehingga saat ini sedang menjalankan program membangun lumbung yang sudah 70 % pembangunannya di kampung kami. Alhamdulillah ini berkat saudara-saudara mau duduk bersama untuk bersilaturrahmi dan berdiskusi yang dalam tulisan ini saya sebut berjajar, serta melaksanakan kegiatan dengan kekuatan ikhlas (hati legowo).
Program yang sekarang sedang dilakukan, meskipuan masih tersendat-sendat adalah pengadaan pupuk organik "Bio Urine". Pengadaan yang sekarang sebatas untuk kebutuhan sendiri dan sampel untuk saudara-saudara yang lain, dimana setiap keluarga yang meminta diberi cuma-cuma dengan jumlah maksimal 1 liter. Untuk selanjutnya besar keinginan untuk memproduksi secara masal sehingga ada mesin penambah rizqy untuk saudara-saudara anggota MMS (Mandiri Makmur Sejahtera).
Dari hasil baca dan browsing tentang pertanian dan pemberdayaan masyarakat desa timbul sebuah ide, " saudara sekampung perlu sebuah perubahan pemikiran cara bertani". Memang saudara di kampung saya, dalam bertani masih menggunakan cara-cara nenek moyang, secara turun temurun, bahkan mereka tidak sadar kalau tanah yang mereka geluti setiap hari sudah jenuh dengan pupuk kimia. Alhamdulilllah sekarang sudah banyak saudara saya yang menerapkan pemupukan non kimia (pupuk organik), pola tanam SRI, JAJAR LEGOWO, dengan perasaan dan hati legowo pula. Meskipun belum seratus persen berhasil, saya sangat senang tak terkira, oleh karena itu pengalaman pertama saya dalam membentuk organisasi yang bernama "Mandiri Makmur Sejahtera/MMS" itu, saya ceritakan di sini. Sekalian ikut meramaikan GWnya mbak Siti Rasuna Wibawa bertema "Pengalaman Pertama". dalam Blogg Corat Coret Una.

| Berjajar dengan hati legowo, kegiatan MMS Kalipare |
Betapa sulitnya membongkar pemikiran masyarakat tentang metode tanam dan pemupukan, karena mereka merasa mempunyai pengalaman bertani lebih lama bahkan turun temurun, seperti ketika dilontarkan metode tanam SRI. Dimana metode tanam SRI adalah menanam hanya 1 atau 2 bibit padi saja dengan mengkondisikan media tanam yang setengah kering, mereka menjawab " gak akan berhasil kalau tanamnya hanya satu atau dua bibit, kalau mati sudah gak ada lagi yang mau tumbuh, beda kalau menanamnya dengan segerombol bibit, kalau mati satu masih ada yang lain". Alhamdulillah setelah ada satu orang yang mau praktik dan diketahui sangat irit bibit dan berhasil cara ini sekarang sudah banyak yang memakai. Sehingga saudara petani hatinya legowo karena bisanya habis benih 1 gembreng (istilah kampung = 12 liter) setelah memakai metode SRI hanya menghabiskan maksimal 5 kg.
Tanggapan masyarakat yang paling pedas komentarnya adalah saat digulirkan metode tanam jajar legowo, " anak muda itu tahunya apa, kalau satu baris tidak ditanami kan rugi. Gimana apa tidak lebih banyak menanam 10 baris padi dari pada 7 baris padi ?". Terasa panas ditelinga dan pikiran, tapi karena menyadari bahwa membawa metode baru sangat berat, kami tidak mau berdebat, apalagi mereka adalah bapak-bapak kami. Beruntunglah sub organisasi MMS yang bernama Karya Maju mendapatkan sedikit bantuan dana untuk mempraktikan metode tanam jajar legowo, sehingga setelah mereka mau mempraktikan metode ini, dan hasilnya sangat menggembirakan. Sekarang sudah bertambah satu demi satu saudara petani di kampung ikut-ikutan menggunakan metode tanam jajar legowo.
Karena keseriusa teman-teman dalam menciptakan inovasi pertanian, kelompok tani kami dipercaya oleh petugas pemerintah sebagai kelompok yang ada kegiatannya, sehingga saat ini sedang menjalankan program membangun lumbung yang sudah 70 % pembangunannya di kampung kami. Alhamdulillah ini berkat saudara-saudara mau duduk bersama untuk bersilaturrahmi dan berdiskusi yang dalam tulisan ini saya sebut berjajar, serta melaksanakan kegiatan dengan kekuatan ikhlas (hati legowo).
Program yang sekarang sedang dilakukan, meskipuan masih tersendat-sendat adalah pengadaan pupuk organik "Bio Urine". Pengadaan yang sekarang sebatas untuk kebutuhan sendiri dan sampel untuk saudara-saudara yang lain, dimana setiap keluarga yang meminta diberi cuma-cuma dengan jumlah maksimal 1 liter. Untuk selanjutnya besar keinginan untuk memproduksi secara masal sehingga ada mesin penambah rizqy untuk saudara-saudara anggota MMS (Mandiri Makmur Sejahtera).
21.07 | 14
komentar | Read More





